Selamat datang di website official 'wijayafx.com'
Anda berada di: Home > Testimoni > Info Lama > I L

I L

Sabtu, 7 September 2019

01:00

Powell: Suku Bunga Rendah Mendukung Outlook Ekonomi

Secara umum Powell menilai bahwa Outlook ekonomi AS masih tangguh dan bebas sinyal resesi. Meski demikian, perlambatan di Eropa dan perang dagang harus diawasi.

Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa prediksi yang paling memungkinkan atas Outlook ekonomi AS dan dunia saat ini adalah kelanjutan pertumbuhan yang moderat. Meski demikian, bank sentral AS tersebut tetap akan mengawasi ketat risiko-risiko signifikan yang menyertai.

Tidak Ada SInyal Resesi

"Semakin ke depan, kita akan terus menyaksikan faktor-faktor ini, dan semua hal yang berkaitan dengan geopolitik, yang sedang terjadi. Kita juga akan terus mengambil kebijakan yang sesuai, demi melanjutkan ekspansi saat ini," papar Powell dalam pidatonya di Zurich, Jumat (06/September) hari ini.

"Ekspektasi utama kami adalah, tak ada (sinyal) akan terjadinya resesi, baik di AS maupun di perekonomian secara global," imbuh Powell.

Powell juga mengatakan bahwa pasar ketenagakerjaan AS masih cukup kuat dan terbukti dari data-data terakhir yang telah dirilis. Selain itu, tingkat suku bunga yang mereka tentukan saat ini, dinilai turut berkontribusi terhadap kokohnya perekonomian AS.

"Sepanjang tahun ini, The Fed tampaknya memang cocok dengan suku bunga yang lebih rendah," kata Powell. "Hal itu mendukung perekonomian AS. Sehingga, inilah alasan mengapa Outlook ekonomi masih sesuai dengan harapan."

Kendati demikian, Powell akan memantau ketat tantangan-tantangan yang dapat seketika meruntuhkan prediksi positif tersebut; termasuk kemungkinan dari dampak perang dagang dan perlmbatan ekonomi di Eropa.

 

Para Investor Masih Ekspektaskan Rate Cut Bulan Ini

Meskipun terkesan optimistis, pidato Powell tersebut tak lantas mengubah ekspektasi para investor akan pemotongan suku bunga AS pada rapat FOMC tanggal 1-18 September mendatang. Pasalnya, data ketenagakerjaan yang muncul sebelum pidato tersebut menunjukkan bahwa Non Farm Payroll AS tumbuh melambat daripada estimasi para ekonom.

NFP AS untuk bulan Agustus 2019, hanya mencetak 130,000 pekerjaan baru, lebih rendah daripada ekspektasi di 158,000 dan menambah penurunan dari level sebelumnya. Namun, upah rata-rata pekerja AS mengalami kenaikan 0.4 persen dari sebelumnya.

 

Dolar AS Ambruk Pasca Rilis Employment Change Kanada

Peluang Rate Cut Bank of Canada bulan depan semakin menciut. Employment Change Kanada yang melesat, seolah mengonfirmasi pernyataan less-dovish Bank of Canada (BoC) Rabu lalu. 

Dolar Kanada menguat ke level tertinggi satu bulan terhadap Dolar AS di sesi perdagangan Jumat (06/September) malam ini. Data ketenagakerjaan Kanada yang memuaskan, mendominasi data ketenagakerjaan AS yang cenderung beragam. Dolar AS ambruk, dengan USD/CAD yang jeblok 0.53 persen ke 1.3159, saat berita ini ditulis beberapa jam pasca rilis data Ketenagakerjaan Kanada. Penurunan tersebut menambah dalam bearish USD/CAD yang sebelumnya sempat merosot 0.86 persen.

 

Jum'at, 6 September 2019

01:25

NFP AS Agustus Turun, Dolar AS Flat di Level Rendah

Data ketenagakerjaan AS untuk bulan Agustus dilaporkan beragam. NFP AS turun, tetapi Upah naik. Dolar AS flat menanggapi rilis tersebut.

Meleset dari ekspektasi, pertumbuhan Nonfarm Payroll (NFP) AS bulan Agustus 2019, kembali jeblok. Dilaporkan oleh Departemen Ketenagakerjaan Jumat (06/September) malam ini, NFP AS hanya mencetak 130,000 pekerjaan baru, lebih rendah daripada ekspektasi di 158,000.

Hasil bulan Agustus tersebut juga menjadi penurunan yang kedua, sejak lonjakan di bulan Juni 2019. Padahal kemarin, data ADP Nonfarm Payroll AS--yang kerap digunakan sebagai ekspektasi refleksi NFP AS--membukukan kenaikan signifikan.

Melambatnya sektor manufaktur menjadi faktor utama penyebab penurunan NFP AS kali ini; dengan pertumbuhan yang hanya mencapai 6,000 pekerjaan di bulan Agustus tahun ini, dibandingkan dengan 22,000 pekerjaan di bulan yang sama tahun lalu. Kondisi ini diakibatkan oleh kebijakan perdagangan AS yang memicu perang dagang dengan sejumlah negara, terutama dengan China.

Menurut Brian Coulton, Kepala Ekonom di Fitch Ratings, New York, lambatnya pertumbuhan NFP AS bulan lalu sejalan dengan melambatnya pertumbuhan AS dan sektor manufaktur. Walau demikian, kondisi ini belum dapat dipandang sebagai sinyal mendekatnya resesi ekonomi.

Lagipula, sektor upah masih cukup mumpuni dan Tingkat Pengangguran AS pun masih di level 3.7 persen, sesuai dengan ekspektasi. Upah Rata-Rata Per Jam bulanan di AS untuk bulan Agustus naik 0.4 persen, tertinggi sejak Februari 2019. Hasil tersebut juga sedikit lebih baik daripada perkiraan flat di kisaran 0.3 persen.

 

Dollar AS Turun Tipis

Dolar AS menanggapi rangkaian data Ketenagakerjaan AS tersebut dengan penurunan tipis dan kecenderungan flat. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap mata uang-mata uang mayor lainnya, diperdagangkan di level 98.40 dalam time frame harian, tak banyak bergerak dari posisi di sesi sebelumnya.

NFP AS
Non Farm Payroll (NFP) merupakan data yang mengukur perubahan jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian. Laporan ini memiliki pengaruh sangat penting terhadap pergerakan Dolar, karena menjadi bahan pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

 

Harga Emas Jatuh Setelah AS-China Sepakat Negosiasi Lagi Bulan Oktober

Harga emas turun drastis lebih dari 2 persen, setelah AS-China setuju untuk menggelar perundingan tingkat tinggi pada awal Oktober mendatang di Washington. 

Harga emas tumbang di sesi perdagangan Jumat (06/September) dini hari, setelah AS-China sepakat untuk renegosiasi bulan depan. Logam mulia ini mengalami penurunan harga tertajam sepanjang tahun 2019, karena kewalahan menghadapi cepatnya "mood-swing" kedua negara tersebut dalam menentukan kebijakan perdagangan. Seperti yang tampak dalam grafik XAU/USD di bawah ini, harga emas jeblok lebih dari 2 persen ke harga 1,518.95. 

 

Sementara itu, harga emas spot, yang merefleksikan perdagangan bullion, turun 2.2 persen dan diperdagangkan pada harga $1,518.52 per ounce pada pukul 18:45 GMT, tepat setelah pengumuman rencana negosiasi kembali pada bulan Oktober mendatang. Sedangkan harga emas futures untuk pengiriman Desember, turun 2.2 persen ke $1,525.50 per ounce di Comex New York. Selain hari ini, harga emas futures pernah turun tajam 2.4 persen di bulan Januari.

 

 

China-AS Kembali Berunding Awal Oktober Depan

AS-China telah setuju untuk kembali ke meja perundingan pada awal Oktober mendatang di Washington. Hal tersebut diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China. Rencana tersebut disusun melalui percakapan telepon antara Wakil PM China Liu He, Perwakilan US Trade Representatives Robert Lightihizer, dan Menkeu AS Steven Mnuchin. Pasar pun menyambut kabar ini dengan harapan AS-China dapat menyelesaikan masalah perdagangan mereka.

Harga emas, yang dalam beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan pesat karena fungsinya sebagai aset safe-haven, langsung tersungkur begitu konflik AS-China sebagai salah satu katalis bullish-nya, mereda. Meskipun renegosiasi tersebut sifatnya masih temporer, tetapi pasar mengapresiasinya sebagai alasan untuk kembalike aset-aset risiko.

"Babak baru sentimen minat risiko juga memiliki potensi untuk semakin menekan turun logam mulia, sehingga harga emas saat ini harus berjuang untuk naik dan mempertahankan upward trend-nya," tulis tim analis TD Securities yang dikutip dari Investing.

"Seandainya kabar-kabar perdagangan selanjutnya positif, kita akan melihat logam mulia berkonsolidasi (di level yang) lebih rendah, terutama mengingat bahwa risiko peristiwa lainnya juga perlu diawasi, menjelang pertemuan sejumlah bank sentral pada bulan September ini." demikian simpulan mereka.

 

 

Yen Melemah Seiring Surutnya Tensi Politik Global

AS dan China sepakat untuk berunding serius pada awal bulan Oktober depan. Kabar tersebut menyurutkan minat beli terhadap Yen sebagai mata uang safe haven.

Yen melemah di sesi perdagangan Kamis (05/September) malam, seiring dengan meredanya konflik perdagangan AS-China dan beberapa konflik geopolitik lainnya. Selain itu, wacana pemotongan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dari sejumlah pejabat bank sentral Jepang, tersebut kian mengikis penguatan Yen yang sempat menjadi safe-haven primadona di akhir bulan lalu.

Saat berita ini ditulis, USD/JPY naik 0.62 persen ke 107.016, level tertinggi sejak tanggal 02 Agustus. Sedangkan EUR/JPY naik 0.56 persen ke 118.021 tertinggi sejak tanggal 23 Agustus.

 

AS-China Akan Berunding Bulan Depan

Isu yang paling menyita perhatian pasar dan mengikis bullish Yen adalah kesepakatan yang dicapai oleh AS-China hari ini. Kedua negara yang sedang adu tarif impor tersebut setuju untuk menggelar perundingan tingkat tinggi pada awal Oktober mendatang di Washington.

Kementerian Perdagangan China mengungkapkan, rencana tersebut disusun melalui percakapan telepon antara Wakil PM China Liu He, Perwakilan US Trade Representatives Robert Lighthizer, dan Menkeu AS Steven Mnuchin. Pasar pun menyambut kabar ini dengan harapan AS-China dapat menyelesaikan masalah perdagangan mereka.

Sedangkan di Inggris, kekalahan PM Boris Johnson di parlemen Inggris membuat peluang No-Deal Brexit semakin menciut. Poundsterling pun melonjak, sementara Yen melemah karena juga digunakan sebagai safe haven atas isu ini.

"Mata uang-mata uang Funding Currencies sedang melangkah mundur seiring meredanya tensi (politik) global," kata Karl Schamotta, Direktur Cambridge Global Payments di Toronto, dimana Yen termasuk dalam kategori mata uang tersebut.

Di Jepang sendiri, dewan pembuat kebijakan di BoJ sedang berselisih pendapat soal suku bunga. Sebagian dari mereka mulai merasa bahwa suku bunga BoJ yang saat ini berada di level -0.1 persen, perlu diturunkan lagi, dengan mempertimbangkan dampak dari perang dagang. Meski demikian, sebagian besar pejabat pembuat kebijakan BoJ masih sepakat dengan Gubernur Haruhiko Kuroda untuk mempertahankan kebijakan saat ini. (Baca juga: Anggota Dewan BoJ Ingin Pangkas Bunga, USD/JPY Menanjak Terbatas)

 

ADP Non Farm Payroll Naik, Dolar AS MAsih di Level Rendah

ADP Non Farm Payroll dan PMI ISM Non Manufacturing AS dilaporkan meningkat. Namun, Dolar AS tak banyak bergerak dari level rendah karena menantikan data NFP AS besok. 

Pertumbuhan ketenagakerjaan swasta AS pada bulan Agustus mencetak laju terpesat dalam empat bulan terakhir. Berdasarkan rilis ADP National Employment Report Kamis (05/September) malam, pertumbuhan lapangan kerja swasta AS melonjak ke 195,000, jauh lebih tinggi di atas ekspektasi 149,000. Sedangkan untuk ADP Employment Change bulan Juli direvisi turun menjadi 142,000 dari sebelumnya di 156,000.

Adapun Service-Providing menjadi sub sektor yang berkontribusi terbanyak dalam menaikkan ADP Employment Change AS, dengan penambahan lapangan kerja sebanyak 184,000. Menurut analis, kondisi ini menunjukkan bahwa resesi ekonomi masih jauh.

"Bisnis-bisnis masih mempertahankan kuat payroll mereka walaupun ekonomi melambat," kata Mark Zandi, Kepala Ekonom di Moody's Analytics. "Perekrutan tumbuh dengan moderat, tetapi jumlah PHK masih terbilang rendah. Apabila kondisi terus seperti ini, maka resesi terbilang masih jauh."

 

PMI ISM Non-Manufacturing AS di Atas Ekspetasi

Tak lama setelah ADP Non-Farm Employment Change AS diumumkan, ISM juga meluncurkan data PMI Non-Manufacturing AS yang menunjukkan ekspansi di level 56.4 di bulan Agustus 2019. Angka tersebut naik dari sebelumnya di level 53.7, dan melebihi konsensus di level 54. PMI Jasa AS versi ISM ini rupanya masih lebih baik dibandingkan dengan sektor manufaktur yang terkontraksi akibat perang dagang AS-China yang tak juga menemukan solusi.

 

Dolar AS di Level Rendah

Meskipun kedua indikator ekonomi tersebut cukup memuaskan, Dolar AS tak menunjukkkan penguatan signifikan. Dalam time frame Hourly, terdapat kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) sebanyak 0.30 persen ke level 98.40, tepatnya setelah data ADP dirilis.

Akan tetapi, dalam time frame harian, Indeks yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap mata uang-mata uang mayor lainnya tersebut tampak masih di kisaran level rendah yang terbentuk kemarin, dan diperdagangkan di 98.42 saat berita ini ditulis.

Para trader forex sedang menantikan rilis data Non Farm Payroll AS besok malam. Jika data ADP Employment Change digunakan sebagai refleksi, maka diperkirakan NFP AS besok masih akan menunjukkan kuatnya pasar ketenagakerjaan AS.

 

 

kamis, 5 September 2019

10:12

Surplus Trade Balance Australia Positif, AUD/USD Lanjutkan Reli

Surplus Trade Balance Australia sedikit menyusut ketimbang periode sebelumnya, tapi masih lebih baik dari ekspektasi. AUD/USD pun kembali melanjutkan reli jangka pendek.

Pada hari Kamis (05/September), Biro Statistik Australia merilis data Neraca Perdagangan (Trade Balance) yang mengalami surplus sebesar 7.27 miliar pada bulan Juli. Angka ini lebih baik dibandingkan forecast ekonom sebelumnya yang memprediksi surplus 7.20 miliar saja. Namun, rilis Trade Balance kali ini berada di bawah gain periode Juni yang menorehkan surplus 7.98 miliar.

Kondisi surplus pada Neraca Perdagangan Australia bulan Juli sebagian besar disumbang oleh ekspor emas yang melonjak 66 persen dengan total nilai 1.08 miliar Dolar. Kenaikan lain juga terjadi pada layanan barang dan jasa, yang ikut terkerek naik sebanyak 240 juta Dolar (1 persen) menjadi 42.53 miliar Dolar.

Sementara itu, impor terhadap barang dan jasa juga mengalami peningkatan sebanyak 979 juta Dolar (3 persen) sehingga menjadi 35.27 miliar Dolar. Kenaikan lain tercatat pada impor produk merchandise yang melonjak 5 persen menjadi 541 juta Dolar, sementara barang konsumsi naik 4 persen menjadi 378 juta Dolar.

 

AUD/USD Perpanjang Kenaikan 3 Hari Beruntun

Rrilis data neraca perdagangan Australia untuk periode Juli menopang kenaikan AUD versus USD. Menariknya, kenaikan pasangan mata uang tersebut sudah terbentuk selama 3 hari ke belakang.

Pada saat berita ini ditulis, pair AUD/USD diperdagangkan pada kisaran 0.6819, menguat 0.38 persen dari harga Open harian. Dolar Australia juga telah rebound nyaris 2 persen versus Dolar AS dari posisi terendah multi tahunan (0.6687) yang tersentuh pada perdagangan hari Selasa (03/September).

Selain data Neraca Perdagangan yang lebih baik dari ekspektasi, reli menyakinkan AUD terhadap Dolar AS tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari RBA yang menahan suku bunga acuan di level 1.0 persen hingga kembalinya minat risiko pasar. Di samping itu, meredanya tensi geopolitik di berbagai negara ikut menyokong penguatan Dolar Australia pagi ini.

 

AS-China Sepakat Lakukan Negosiasi Dagang Pada Bulan Oktober

Pembicaraan dagang yang digadang-gadang akan berlangsung bulan ini, batal setelah kementerian perdagangan China mengumumkan pengunduran jadwalnya.

Pada hari Kamis (05/September), Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi bahwa perwakilan dagang AS-China telah selesai melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon pada pagi ini. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat bahwa perundingan dagang secara tatap muka akan dilaksanakan pada awal bulan Oktober mendatang. Kabar ini sekaligus memupus ekspektasi pelaku pasar sebelumnya yang memprediksi  pembicaraan dagang akan berlangsung pada bulan September.

Hasil dari pembicaraan via telepon antara negosiator dagang Negeri Tirai Bambu dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin beberapa saat lalu, memastikan bahwa perundingan dagang akan dilaksanakan di Washington pada awal Oktober. Namun sebelumnya, tahapan konsultasi akan dilakukan pada pertengahan bulan ini sebagai upaya persiapan sebelum pertemuan tatap muka AS-China bulan depan.

"Kedua belah pihak sepakat bahwa mereka harus berkerja sama dan mengambil tindakan praktis untuk menciptakan kondisi yang menguntungan bagi proses negosiasi dagang," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China.

Meski ditunda, kabar mengenai kepastian jadwal pembicaraan dagang AS-China pagi ini menjadi salah satu faktor yang melegakan pelaku pasar. Setelah sebelumnya mencuat kabar bahwa kedua negara tidak akan melakukan negosiasi karena sama-sama meresmikan kenaikan tarif impor pada tanggal 1 September lalu.

 

Minat Risiko Kembali, Dollar AS Melemah

Pada saat berita ini ditulis, Indeks DXY yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia berada di level 98.47. Indeks berupaya bangkit setelah terperosok cukup dalam pada sesi perdagangan hari Rabu kemarin. Turunnya tensi geopolitik dari berbagai negara membuat pasar tak terlalu berminat pada Dolar AS sebagai mata uang safe haven. Karena itu, tak heran jika mata uang safe haven lain seperti Yen dan Franc Swiss juga kompak melemah.

 

 

 Williams Fed Awasi Imbas Faktor Eksternal Terhadap Ekonomi AS

John Williams mengatakan bahwa ia akan fokus mengawasi tekanan inflasi AS yang diakibatkan oleh melemahnya ekonomi global, guna menjaga kelanjutan ekspansi.

Presiden Federal Reserve untuk wilayah New York, John Williams, mengatakan bahwa ia siap sedia untuk mengambil "kebijakan yang sesuai" demi membantu Amerika Serikat menghindari penurunan ekonomi. Namun demikian, untuk saat ini ekonomi AS dinilainya masih berada dalam posisi yang bagus.

Berbicara di sebuah konferensi di New York, Rabu (04/September) malam, Williams mengatakan bahwa para pembuat kebijakan harus fleksibel dalam membuat kebijakan moneter.

"Kita harus mempertimbangkan semua informasi yang tersedia, dan lebih fleksibel dalam menanggapi," kata Williams dalam pidato pembukaannya.

Menurut pengamatan pejabat penting di FOMC tersebut, pasar tenaga kerja AS masih tampil prima. Namun, ia akan terus mengawasi penuh perkembangan faktor-faktor yang berpotensi kuat membebani Outlook ekonomi AS; antara lain perang dagang, perlambatan ekonomi global, dan kemungkinan gangguan yang disebabkan oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

"Saya mengawasi dengan seksama gambaran kondisi saat ini dan siaga untuk bertindak dengan kesesuaian, demi mendukung kelanjutan pertumbuhan ekonomi, kuatnya pasar tenaga kerja, dan kelanjutan inflasi AS agar kembali ke target 2%," jelas Williams.

Sebagai informasi,The Fed masih diperkirakan akan menurunkan lagi suku bunganya pada pertemuan tanggal 17-18 September mendatang, setelah melakukan Rate Cut sebesar 25 basis poin pada bulan Juli lalu. Williams menjadi salah satu anggota komite FOMC yang pro pada pemotongan suku bunga tersebut. Bahkan, beberapa waktu sebelum rapat FOMC Juli digelar, Williams memberikan pernyataan sangat dovish yang sempat membuat Dolar AS turun drastis.

Mengakhiri pidatonya tadi malam, Williams mengatakan bahwa dalam beberapa waktu ke depan, ia akan fokus mengawasi tekanan inflasi yang diakibatkan oleh melemahnya ekonomi global. Target utamanya adalah menjaga agar ekspansi ekonomi AS tetap berjalan dengan semestinya.

Menanggapi pidato Williams, Indeks Dolar AS melemah. Indeks yang mengukur kekuatan Dolar AS versus sekumpulan mata uang mayor lainnya itu juga terpengaruh pula oleh perkembangan geopolitik. Saat berita ini ditulis, DXY masih berada di level rendah satu pekan dan diperdagangkan di posisi 98.41.

 

Admin

Silahkan klik pada icon berikut:

Grup fb consultant

Consultant Online

Kami Sedang Online, Klik ID Card Untuk Mengirimkan Pesan WhatsApp

 

 

Info Kami

 

Copyright c 2018-2019 Wijayafx. All Rights Reserved

nach oben